Kamis, 11 Agustus 2011

novel

well, novel ini sangat tidak rapi, belum selesai dan jelek, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa membuatnya #aseeeeeekkk :D# silahkan dibaca, dan terima kasih sudah dibaca:) kalau mau memberi komentar, silahkan koment :D

penyiksaan !
            Sepertinya sudah lama sekali aku datang ke Balikpapan. tapi rasanya waktu berdentang lebih lama, seperti ingin membuat aku kesal. Dimataku semuanya berlalu lalang lebih lama, seperti gerakan slow motion.
Ditambah lagi dihari pertama kedatanganku, mamaku sangat bahagia sampai mukanya berseri.seri, seakan mendapat makan malam special atau kalung berlian dari papa. dan ternyata, itu pertanda keburukan yg terlambat kusadari. Dan dari situlah kebahagiaan sepihak yg membuatku merana berawal.
Begitu sampai dirumah, mamaku langsung menarikku kekamarku, tanpa memberiku kesempatan untuk ber say hallo pada penghuni rumah. Dan ternyata, kamarku sudah penuh. Lemari baju yg cukup besar berada disamping tempat tidur yg bisa dipakai dua orang – kecuali kalian cukup kurus dan mau untuk berdesakan – lemari tempat buku, dan meja belajar tertata rapi disana.
“ayo kita liat isi lemari kamu.” Ucap mamaku sambil tersenyum penuh semangat. Aku bergidik, perasaan was-was menghampiriku. Seakan akan ada monster yg akan menggigit dan mengoyak tubuhku – pikiran yg terlalu berlebihan -. Kusiapkan mentalku untuk menghadapi apa yg ada disana tapi aku yakin seyakin.yakinnya, didalam situ bukanlah hal yg akan membuat aku bahagia.
Dan benar pikiranku.
Baju-baju digantung dengan rapi disana, semua cewe pasti akan tergoda jika melihat semua baju yg ada disana, tapi tidak berlaku untukku. Baju bermerk ternama tergantung disana – aku agak bersyukur karna tidak ada gaun disana –. Tapi itu tidak membuatku histeris dan lompat kegirangan, seperti yg diinginkan mamaku.
“kamu tidak suka?” Tanya mamaku, suaranya sangat berhati-hati, berharap aku tidak meledak.
Well, tentu saja aku akan suka dengan semua baju didalam itu jika warnanya bukan PINK ! warna yg tak pernah kusukai hampir beberapa tahun ini. karna warna itu telah membuat aku sakit hati, membuat aku mengingat masa lalu, dan merasakan patah hati yg mendalam.
Kututup mataku sambir memaki dalam hati pada diriku sendiri “berhenti bernostalgia bodoh!” lalu aku mengubah mimic diwajahku, menjadi lebih santai dan lebih tenang. Lalu aku menoleh kewajah mamaku, dan wajahnya terlihat khawatir, takut dan merasa bersalah.
“ma, aku suka semua baju ini – well tidak semuanya – hanya saja, bisa tidak warnanya tidak pink?” ucapku santai, tapi ada sedikit penekanan pada kata pink. Mamaku memandangku lama sekali dengan ekspresi datar. Membuatku merasa bersalah dan cepat-cepat mencari alasan.
“well, kalo kau tidak suka, mungkin kita sumbangkan saja baju ini ke panti asuhan, lalu kita belanja ke mall – pastinya setelah kita menyumbangkan baju ini –“ mamaku menunjuk pada baju yg ada dilemari “bagaimana? Mau kan?” ucap mama, tersenyum datar, tapi wajahnya penuh harap.
Aku menghela napas, pasti akan kalah berunding dengan mamaku. Apalagi kalau bukan karna wajahnya yg cantik dan pintar memainkan ekspresi wajahnya. Aku mengangguk singkat lalu mamaku tersenyum bahagia. Terpaksa aku juga tersenyum penuh kebahagiaan.
Mamaku bernama rose, siapa yg tidak akan senang berada didekatnya. Masih muda – kalau tidak salah, sebentar lagi berumur 30 – sangat cantik, proporsi tubuhnya sempurna, berwawasan luas – karna dia adalah pengguna internet paling sering untuk ukuran ibu rumah tangga – ditambah bakatnya yg pintar memainkan ekspresi dan pintar berbicara, sehingga gampang saja baginya membohongi orang dengan bakatnya itu.
Akulah korban yg paling sering – sangat jelas karna aku anaknya, dan selalu berada disampingnya – disiksa dan dibohongi. Mungkin saja dia sengaja membelikan baju bewarna pink untuk mengisi lemariku – atau dia menyewa dari temannya yg memiliki usaha penyewaan baju – padahal dia tau pink bukan warna favoritku. Dan karna itulah dia berencana membuat aku menolak, lalu mengajakku shopping.
Ini salah satu hal yg paling kubenci, pergi berbelanja bersama mamaku tercinta yg pasti akan memakan waktu seharian penuh. Memilih baju yg cocok, menarikku kesana kemari seakan aku troli untuk menaruh barang, lalu asyik memaksa aku mencoba pakaian yg dia pilih dalam jumlah banyak – para pengunjung yg menunggu giliran untuk mencoba baju memaki pelan padaku –, kakiku sudah tak bisa kuangkat lagi terpaksa menyeretnya agak bisa bergerak maju. Benar-benar penyiksaan.
Sampai dirumahpun belum berakhir semua penderitaan ini. kembali mamaku menyeretku kekamarnya, dan menyuruhku mencoba lagi bajunya dan mencarikan pasangan yg cocok. Aku hanya bisa pasrah dengan cobaan ini berhubung aku anak tunggal dikeluarga ini. suara papa dari luar yg sangat kelelahanlah yg menolongku dari semua acara mamaku ini. aku segera merapikan baju hasil belanja seharian dan membawanya keluar.
“andrea, sudah kembali rupanya, apa kabar sayang?” ucap papa sambil membuka kedua tangannya dan aku segera memeluknya, kurasakan papa mencium ubun-ubunku penuh kasih sayang.
“yeah, aku disini, berarti aku sudah kembali.” Ucapku sambil mengangkat bahu dan tersenyum bahagia. Papa membalas senyumanku dengan senyuman yg paling lebar. Lalu tatapannya melirik tas-tas yg kubawa.
“penyiksaan lagi?”
“yeah, bisa dibilang ini yg paling parah.” Ucapku, bahuku terkulai kebawah, mengenang kejadian hari ini.
Dengan sekuat tenaga kuseret kakiku menaiki tangga menuju kamarku. Menaiki anak tangga satu demi satu pelan-pelan seakan mengangkat berat berton-ton pada kedua kakiku. Berhubung aku sangat letih, aku segera menarik ganggang pintu, menutupnya lagi dan melempar tas belanjaanku kesamping meja belajarku lalu menjatuhkan diri keatas ranjang dan terlelap.

“maa, haruskah aku ikut keacara arisan mama?” keluhku waktu mamaku mengganggu tidurku yg nyenyak dan menyuruhku menemaninya ke arisan ibu-ibu komplek kami.
“tentu saja harus! Kau baru saja pulang dari singapura, mama ingin memperkenalkan kamu dengan teman arisan mama, jadi kau harus ikut!” ucap mama dengan penuh nada kesal saat melihat aku masih meringkuk kedalam selimut.
“tapi ma, aku capek sekali. beberapa hari ini mama menyeretku kesana kemari. Kakiku rasanya mau patah ma. Bisakah aku istirahat sebentar saja?” ucapku lagi dengan nada memohon.
Tapi ternyata itu tidak membuat mamaku tersentuh “well andrea itu tidak akan menjadi alasan yg kuat untukmu bermalas.malasan sampai tengah hari. Ini hari minggu, liat semua remaja – tidak semua sebenarnya – sudah bangun. Lihat mama, mama tidak apa-apa padahal kemarin mama bersamamu kan berkeliling mall? Cepat mandi dan berpakaian. Mama tunggu 20 menit lagi dibawah!” ucap mamaku, dan aku tau kali ini tak akan bisa kubantah sama sekali.
“terimalah nasibmu andrea.” Ucap papa saat melewati kamarku.
Aku mendengus kesal, segera mengambil handuk dengan langkah yg kuentak-entakkan karna sangat kesal. Setelah selesai mandi, aku menemukan gaun – entah apa namanya – panjangnya selutut tergeletak di ranjang dan ada selembar kertas diatas gaun itu.
Pakai ini, tidak boleh tidak!
Dengan terpaksa aku mengenakan gaun bewarna hitam itu, daripada membuat mama mengamuk dan malah memperpanjang masalah. Kugunakan juga sepatu highhills 10 cm dan kugerai rambutku dan segera memandang ke cermin. Benar-benar aku seperti orang idiot menggunakan sepatu ini. tapi, setidaknya gaun ini membuatku terlihat anggun dan manis – well, pasti otakku sedang kacau karna baru bangun –
Aku berjalan sangat pelan menuju ke tangga, memikirkan reaksi papa dan mama mendapati aku menggunakan pakaian seperti ini. pasti mereka akan mengejekku, mengetawai aku sangat keras dan lebar sampai tersedak – tidak ada maksud sama sekali untuk menyumpahi – lalu aku akan merasa seperti badut yg sangat tolol.
Mereka berdua terdiam, mulut mereka sama-sama menganga lebar, sama-sama memasang tatapan shock seakan-akan melihat hantu. Aku panik, dan hati-hati melihat lagi sepatu, dan bajuku, takutnya ada noda atau salah satu bagian bajuku terangkat.
“something wrong?” tanyaku. Suaraku parau.
Mereka masih saja terdiam semakin membuat aku merasa risih. Lalu mereka bergerak, mereka menoleh dan menatap satu sama lain lalu kembali menatapku. “well, tidak ada yg salah sayang – well, ada sedikit – hanya saja kami tidak terbiasa melihatmu mengenakan pakaian ini.” mereka menatapku dari atas sampai bawah.
“apa tidak cocok?” tanyaku, kecewa sekali. aku pkir aku cocok dengan istilah feminim.
Mereka langsun panik mendengar nada kekecewaan di suaraku. Mereka langsung berdiri disampingku dan merangkulku dengan lembut “ bukan begitu sayang, hanya saja kami tidak terbiasa. Tapi kamu benar-benar mempesona.” Ucap mama dengan suara lembut. Aku tersenyum datar.
Lalu papa melepas rangkulannya dari pinggangku dan segera berlari ke kamar. Aku dan mama heran melihat kelakuan papa. sempat berpikir kalau papa akan menangis tersedu-sedu melihat anaknya yg sekarang mulai feminim – well, tapi aku tak akan mengharapkan hal seperti itu - .
Papa kembali dari kamar dan secepat kilat keluar dari kamar dan menenteng kamera kesayangannya. Aku dan mama ber-ahh bersama. Kegiatan papa setiap ada sesuatu yg terjadi, mengabadikan setiap kenangan dengan kameranya yg sudah berumur hampir 20 tahun. Banyak sekali yg diabadikan oleh papa terutama yg berhubungan denganku dan bersikeras untuk mencetaknya. Sampai mama harus membeli banyak album photo untuk menaruh semua photo – well, beberapa photo yg memalukan tentu saja kusingkirkan –
Setelah mengambil beberapa photo, aku dan mama bernjak pergi menuju ketempat arisan. Sepanjang jalan mama mengoceh tanpa henti tentang apa saja yg harus kulakukan disana, duduk diam, bersikap manis, banyak tersenyum – kemungkinan wajahku akan nyeri semua – lalu juga yg terpenting, jangan mempermalukan mama. Pasti disana aku akan sangat menyedihkan.
Benar saja, aku seperti patung idiot yg duduk diantara para ibu-ibu yg mengoceh tentang hal yg tidak penting. Ada sekitar 12 ibu-ibu yg membagi menjadi 4 kelompok dan bergosip tentang hal yg berbeda secara bersamaan yg membuat kepalaku jadi sangat pusing.
Mama yg duduk disebelahku sedang bergosip dengan temannya, yaitu tante Martha dan tante jenny tentang masalah perjodohan anak tante Martha yg akan berlangsung minggu depan. Mamaku fokus sekali mendengar tentang persiapan yg dilakukan oleh tante Martha.
Sedangkan ibu-ibu yg lain membahas tentang harga sembako, lalu ada yg membahas masalah trend baju jaman sekarang, ada yg membahas untuk menggunakan uang hasil arisan untuk pergi keluar negeri – kalaupun mereka dapat – dan ada juga yg membahas masalah lingkungan dan sampah – well sepertinya kelompok ini yg membahas tentang sesuatu yg bermoral – .
Inilah salah satu hal yg aku benci dari arisan ibu-ibu, apalagi ibu-ibu yg tinggal diperumahan elit, mereka tidak pernah memulai acara tepat waktu, sepertinya juga tidak menghawatirkan urusan rumah – well tentu saja kalau mereka punya pembantu – dan juga senang sekali berbasa-basi. Membuatku sangat kesal sekali.
Kusikut lengan mamaku pelan dan mamaku ber ‘aw’ pelan dan menoleh kearahku. Mamaku meringis kesakitan, dan menatapku dan mengatakan “apa” dari tatapan matanya. Aku menunduk dan berbisik kemamaku sepelan mungkin “bukankah harusnya ini acara arisan? Kenapa menjadi acara gosip massal? Bisakah mama menyuruh teman mama untuk memulainya?” bisikku kesal pada mamaku.
Mamaku memandangku dengan tatapan tidak suka karna acara menggosipnya ku interupsi. Lalu mamaku berpaling dan menghadap kearah tante sarah – yg punya rumah, dan sekaligus termasuk dalam grup pembahas model baju trend jaman sekarang – dan berkata dengan suara lembut sambil tersenyum.
“sarah, bisa kita mulai sekarang?” ucap mamaku. Sontak semua suara berhenti. Dan aku mendapatkan kesunyian yg nyaman lagi.
“aah, ya. Kita terlalu banyak bergosip rupanya. Tapi, bukankah kau ingin memperkenalkan putrimu pada kami?” ucap tante sarah sambil menudingkan tatapan kearahku. Semua orangpun menatapku dengan penasaran.
“ah, ya. Ini putri semata wayangku, andrea pricillia. Dia baru pulang dari singapura sekitar beberapa minggu yg lalu. Ayo sayang beri salam pada teman-teman mama.” Ucap mama sambil mencolek punggungku.
Dengan sekuat tenaga aku mengucapkan semua tanpa tergagap “ halo tante, nama saya andrea pricillia. Seperti yg mama saya bilang saya baru saja pulang dari singapura. Senang bisa berkenalan dengan anda semua.” Ucapku sambil terseyum.
“well, andrea sayang bagaimana singapura?” Tanya teman mamaku yg bernama tante indah.
“super.”
Mamaku menyikutku. Aku mulai lagi mengucapkan 1 kata saja saat menjawab perkataan orang – mamaku pikir aku punya kelainan – well karna kata itu kadang tidak nyambung dengan pertanyaan, dan kadang tidak mudah dimengerti. Aku segera memperpanjang kalimat saat semuanya tampak bingung.
“maksud saya super indah tante, walaupun terlalu padat.”
“ah memank. Lalu kenapa kamu meninggalkan singapura sayang?” Tanya tante sarah.
“well, saya bosan tante, saya merindukan Balikpapan. jadi saya memilih untuk pulang.” Ucapku, padahal bukan itu sebenarnya alasannya.
“wah, sama seperti mamamu ya kamu. Gampang bosan.” Ucap tante indri lalu disambut tawa oleh yg lain. Akupun dengan terpaksa ikut tertawa.
“well kalo bgtu ayo kita mulai saja arisannya.”
Thank you god ! batinku.
Tante sarah selaku pemilik rumah memiliki kewenangan untuk mengocok botol tempat kertas yg berisi nama para pecinta arisan – begitulah mereka menyebut diri mereka – ditaruh. Setelah lama mengocok botol dengan gayanya sendiri, akhirnya keluar juga satu kertas. Tante sarah langsung memungutnya dan membuka. Untuk sesaat tante sarah menyunggingkan senyum licik dan bersikap misterius.
 “aaa…” ucap tante sarah membuat penasaran .
“oh , bisa cepat tidak sarah? Kami penasaran!” ucap tante nina tidak sabaran.
“okee-okee, selamat untuk – tante sarah tersenyum misterius lagi – untuk diriku! Haha hari ini hari keberuntunganku.” Ucap tante sarah bersemangat sambil melambaikan kertas yg bertuliskan namanya diatas kepalanya. Tawanya juga seperti anak kecil, membuatku tersenyum.
Sesuatu menusuk.nusuk kandung kemihku, refleks tanganku melingar diperut – seperti orang yg sakit perut – dan mamaku menoleh dan memandang penuh Tanya. Aku memasang wajah memohon bantuan.
“hmm, tante sarah, boleh andra ke kamar kecil? Andrea kebelet.”
“aa, tentu saja sayang, ayo tante antar kamu kekamar mandi.” Ucap tante sarah dan menggandeng tanganku.
Rumah sangat cantik, dengan banyak Gucci disudut rumah, bunga dan lilin aromateraphy diatas rak. Tante sarah sepertinya menyukai benda antik, karna kebanyakan perabotan dari vas, lemari, meja, jam dinding, lampu gantung hias semuanya terlihat antik. Dan sepertinya masih banyak lagi barang antic milik tante sarah di lantai atas.
Sampai dikamar mandi aku segera masuk. Diluar terdengar tante sarah mengatakan kepadaku bahwa dia pergi duluan kedepan. Aku menghela napas. Akhirnya aku sendirian.
Aku menuju wasatfel untuk mengelap tangan sekaligus membersihkan wajah. Berpikir aku masih tetap yg dulu, masih tetap andrea yg dulu. Namun mama mengatakan aku banyak berubah. Aku semakin dewasa, semakin pendiam. Bukan andrea yg dulu , periang, banyak bergerak, dan membawa benda berbahaya sambil berlari-lari karna aku pikir semua orang menyukainya – tapi dalam hal ini, golok tidak masuk daftar –
Aku juga berpikir seperti itu, banyak sekali yg berubah dari diriku. Aku seperti power ranger, berubah dengan cepat, dan menjadi orang lain dengan bentuk baru. Tapi andai saja aku bisa kembali ke awal seperti power ranger yg sudah menyelasaikan tugasnya.
Singapura banyak merubahku, dengan banyak orang asing, dengan banyak hal yg tak kutemukan di Indonesia. Tapi alasanku ke singapuralah yg membuatku berubah. Aku terlalu pengecut menghadapi hujatan teman satu sekolahku, karna mereka pikir aku mencuri kunci jawaban ulangan semester…
Aku tersadar dari lamunanku karna mendengar suara tetesan air dari dalam bak mandi. Aku segera mencipratkan sedikit air di mukaku dan segera keluar, aku takut mama khawatir aku terlalu lama di kamar mandi – atau mereka berpikir aku kenapa-kenapa , atau betah dengan kamar mandi tante sarah -.
Kubuka pintuku kamar mandi dan melangkah, hampir melompat dengan semangatnya – untuk ukuran orang yg baru keluar dari kamar mandi – dan kakiku meleset dari kain keset yg disediakan. Akhirnya aku terjatuh, tanganku terarah kesamping meraih meja, atau apapun yg bisa kuraih, tapi gagal. Kupasrahkan diriku terjatuh – dengan posisi telungkup –
Lama aku menanti, tubuhku tak kunjung menghantam keras dan dinginnya lantai tekel. Lalu aku mebuka mataku dan mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa wajahku belum rata dengan lantai. Ternyata aku melayang – setelah memastikan dengan seksama – dan anehnya , aku merasakan nyeri disekitar perutku.
“hey, kamu gak papa, kenapa diam aja?” Tanya sebuah suara, dan aku yakin itu cowo karna suara bassnya.
Dia membantuku bangun dan menyeimbangkan tubuhku yg sedikit oleng. Aku berpegang kuat pada bahunya sambil berusah berdiri tegak. Saat sudah benar-benar bisa berdiri tegak, aku menoleh dan melihat wajah penolongku itu. Dan saat menatap wajahnya, tiba-tiba keseimbanganku kembali goyah. Dan seketika dia menangkap badanku yg oleng itu.
“kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
Akuterdiam...
“hey, kamu kenapaa ?” tanyanya sambil mengguncang tubuhku yg perada dalam dekapannya.
Aku masih diam dan tak bisa bicara…
“hey, apa kamu mau kupanggilkan dokter?” tanyanya lagi. Suaranya terdengar khawatir.
“tidak usah. Aku tidak apa-apa.” Ucapku akhirnya teburu-buru.
Dia menatapku. Tidak yakin dengan jawabanku. “apa kepalamu terbentur?” tanyanya, sambil melihat kearah kepalaku.
Dia pikir aku melantur, batinku. “well, kemungkinan terbentur – oleh udara maksudku - .”ucapku, aku tak mengerti apa yg aku katakan semua terucap begtu saja.
Dia tertawa lebar, Wajahnya sangat tampan. Apalagi saat tertawa seperti ini tampannya melebihi ketampanan brad pitt. Lesung pipi yg dalam dikedua pipinya. Kulitnya putih, sepertinya dia blasteran. Bentuk tubuhnya juga sangat pas. Rambutnya yg ikal menampah poin ketampanannya. Aku terbang ke khayalan tingkat paling tinggi yg pernah kuraih. Membayangkan berlari bersamanya, bergandengan tangan dengannya, menyentuh wajahnya dengan tanganku, mendekapnya daan..dan..
Aku tersadar dari khayalan yg menjijikan barusan. Aku kembali kedunia nyata dan dia menatapku dengan kasihan, cemas seperti aku korban tabrak lari tapi akulah yg menabrak kendaraan itu – mungkin hanya orang gila yg begitu -.
 “apa udara benar-benar membuat kepalamu bermasalah?” tanyanya khawatir, tapi ada sedikit nada geli di suaranya. Well, dia mengejekku.
“hm, semua bisa saja terjadi kan?”
Dia membangkitkan tubuhku lagi. Dan kali ini aku menyeimbangkan tubuhku lebih cepat menyeimbangkan diri. Aku menatap lagi wajahnya – dan kali ini tanpa khayalan menjijikan – dan terpesona lagi olehnya. Baru kali ini aku menemukan seseorang setampan dia. Didalam khayalankupun tak pernah muncul wajah setampan ini. tuhan memang baik sekali padaku.
Dia mengulurkan tangannya kearahku, “aku brian,”. Suaranya sangat merduuuu..
“hmm, aku andrea.” Ucapku malu-malu.
“so, kamu ikut arisan?” suara dan senyumnya mengejek.
Aku tergagap – kadang aku benci dengan sikapku kalau aku sedang gugup – saat menjawab pertanyaannya “hm, aku diajak oleh mamaku – well, dipaksa sebenarnya –. Mama juga mau memamerkanku ke teman-temannya sepertinya.”
Dia terdiam sesaat memandangku dengan tatapan misterius, sedikit yg dapat kumengerti dari tatapannya, menyelidik. Lama sekali dia diam memandangku. Dan kumanfaatkan wktu itu untuk memandangnya juga. Dan aku memikirkan tentang dia – berfantasi tentang dia, persisnya – sedikit. Lalu fantasiku terusik oleh senyum licik yg menghiasi wajahnya.
“kamu mau kubawa kabur?” tanyanya.
Aku kebingungan, dia mengajakku lari bersamanya. Well, ini masih terlalu awal, apalagi dia dan aku baru saling kenal beberapa menit yg lalu. Dan dia baru saja mengajakku kabur bersamanya, well seperti kawin lari saja.
“kabur? Buat apa?” tanyaku, berusaha datar tapi ternyata ada sedikit nada panik terselip disuaraku.
Dia tertawa lagi, aku makin curiga padanya, takut dia maniak penculik gadis remaja untuk dijual. “well, aku takut saja gadis secantik kamu di jadikan bayaran arisan atau apalah. Mending kamu aku culik dan kujadikan pembantu dirumah. Hahahaha” dia tertawa lebar sekali.
Aku cemberut mendengar kata-katanya. Menyucuk sanubari. Nasibku menurutnya jadi bayaran arisan, atau tidak jadi pembantunya, apakah nasibku tidak ada yg lebih buruk lagi? Well, memank dia memujiku cantik – dan itu meredakan sakit akibat cemoohannya – tapi tetap saja, jadi bayaran arisan, pembantu? -,-
Dia melihatku cemberut dan langsung meredakan tawanya dan berdeham, “well, jangan marah. Maaf kalau aku bercanda kelewat batas. Kamu marah?” ucapnya dengan penuh rasa menyesal.
Aku langsung tergagap begitu mendengar dia menyesal, “well, gpp ko, aku juga menganggap itu lucu. Haha.” Ucapku dengan suara senang yg aku buat-buat.
“sepertinya aku tidak pernah melihatmu disekitar sini. Apakah keluargamu baru saja pindah?” Tanya brian, dia membawaku ke taman belakang dan duduk di gazebo kecil yg berada ditaman tante sarah.
“well, aku dan keluargaku sudah lumayan lama disini, hanya saja, aku pergi selama 1,5 tahun ke singapura, dari kelas 3 awal sampai kelas 1 sma. Kamu sendiri?”
“aku baru saja datang kesini 2 tahun yg lalu. Pantas saja aku tak pernah melihatmu. Aku datang saat kau pergi.”
Brian tergelak karna ucapannya sendiri. Kami terus berbicara tentang banyak hal, tentang masa laluku di singapura, tentang masa lalunya di samarinda, tentang sekolah, hoby, dan banyak lagi tentang hal lain. Dia sangat humoris, sangat pandai berbicara. Andai aku mewarisi bakat pandai berbicara – atau bisa dibilang cerewet – yg dimiliki mamaku.
Kubiarkan dia menceritakan tentang teman masa lalunya sementara aku memperhatikan ekspresinya yg kadang serius, muram, dan kadang senang, tidak jarang di tergelak saat menceritakannya. Aku menikmati setiap ceritanya, dan sekalian mencari tahu semua tentang dia.
“ehem.”
Kami menoleh bersama-sama kearah dehaman itu. Dan mendapati tante sarah dan mamaku berdiri bersandar didepan pintu sambil tersenyum penuh makna. Aku berdiri dan berusaha membuat wajahku sedatar mungkin. Brian juga berdiri, tapi bedanya dia malah salah tingkah. Dan pertahananku runtuh,  pipiku merona.
Tante sarah melangkah maju diikuti mamaku, mereka sama-sama memandang kami dan berusaha menyembunyikan senyum geli mereka – well, terlihat sekali mereka sangat licik dimataku – dan begitu sampai didepan kami, mereka berusaha sewibawa mungkin, dan menurutku itu menyebalkan.
Mama berdiri disampingku dan menyikutku pelan. Aku menoleh dan mama tersenyum sambil menatap kearah lain dan benar, mama memandang brian, aku menelan ludah. “well, mama kenalkan ini temanku – teman baru tepatnya – brian.”
Brian tersenyum sopan, mama juga tersenyum , tapi matany menyelidik. Seperti waktu mengeksekusi pacar pertamaku yg kuajak kerumah. Tatapan ramah yg sinis yg membuat orang takut. Dan akhirnya 2 hari sesudahnya, kami putus hanya gara-gara meributkan masalah tatapan mamaku.
Kami semua diam seribu bahasa. Mama masih menatap brian, brian menatap mama, tante sarah – seperti orang tak dianggap – menatap brian geli. Dan aku menatap mereka bergantian, berharap ada yg menatapku atau mulai berbicara.
“sepertinya kamu sudah mengenal keponakan tante ya andrea, jadi tante tidak perlu mengenalkannya padamu.” Ucap tante sarah terbatuk.batuk, berusaha menyembunyikan gelak tawanya. Mama tertawa kecil menatapku. Saat kupelototi tawa mama langsung hilang.
Suasana langsung hening, kami semua terdiam. Aku memandang kesegala arah, berharap ada seseorang yg bergabung, atau memanggil mama dan tante sarah karna suasana hening ini sangat menyiksa. Aku berharap menjadi Edward Cullen, agar mengetahui semua pikiran mereka.
Aku mulai merasa kedinginan tanpa sebab. Menggerakkan tanganku sedikit saja seperti pelanggaran yg berhadiah hukum pancung, seperti ada sinar laser diseluruh badanku yg siap menerjang saat aku bergerak sedikit saja, well secara singkatnya, saat ini aku serba salah jika melakukan sesuatu.
Tiba-tiba suara dering hp pembawa keselamatan berdering. ternyata itu milik tante sarah. segera tante sarah izin kepada kami lalu beranjak menjauh untuk mengangkat telepon itu. Banyak keuntungan dari telpon itu, salah satunya mama jadi gelisah dan bingung harus bagaimana.
“well, mama kedepan sajalah. Susul mama kapan saja kamu selesai.” Ucap mama sambil menyelipkan sindiran yg membuat pipiku merona.
Mama pergi, tak berapa lama tante sarah menyusul, tinggal kami berdua saja di gazebo ini.
Aku menarik napas lega sekali saat mama dan tante sarah pergi. Aku menoleh kearah brian. Wajahnya terlihat sangat lega sekarang, diapun tersenyum padaku, lalu tertawa geli saat bersamaan. Seperti orang idiot aku hanya bisa ternganga dan menatapnya.
“lucu sekali mamamu dan tanteku. Mereka bisa jadi duet yg hebat.”
“yeah, dan kalau mereka sedang berdua lebih baik aku pergi.” Ucapku tenang.
“hahaha, jangan lemas donk andrea.” Ucap brian. Aku tersenyum lemas padanya. Kegiatan tadi menyita tenaga seperti habis push up 5 menit.
“brian aku harus pergi sekarang. Lain kali kita ketemu yaa.” Ucapku, aku langsung berjalan menuju ke dalam ruangan, tanpa sadar brian menarik tanganku.
“kau lupa meninggalkan nomor hpmu.” Ucapnya sambil nyengir. Aku salting saat dia mengatakan itu. Secara tidak langsung, aku geer.
“well kemarikan hpmu.”
Dia memberikan hpnya kepadaku. Lalu aku mengetik cepat nomorku dan mengembalikan hpnya. “udah tuh, bye yan.” Ucapku sambil tersenyum. Dan akhirnya aku beranjak pergi. Saat berjalan, aku tak bisa berhenti untuk tersenyum.
                                                                                                                                   
hurt !
Pagi-pagi buta aku terbangun dengan jantung nyaris copot. Aku mendengar suara memekakan telingaku.
“maa kecilkan suara tvnya !!”
Tidak ada jawaban dari mama. Aku akhirnya beringsut bangun dari ranjang dan pergi bawah ingin melihat, acara apa sebenarnya yg mama tonton sampe menyetel tv di pagi buta senyaring itu.
Dibawah tidak ada orang. Hanya suara tv yg nyaring memenuhi ruangan. Aku menuju ke ruang tamu menuju sumber suara dan mencari remote tv, saat melihat layarnya aku kehilangan kesadaran. Aku berharap apa yang aku lihat itu mimpi, segera kupuku wajahku, berharap bangun dari mimpi - jika itu benarbenar mimpi – dan aku berharap itu mimpi.
Aku bukan terpaku dengan banyaknya wartawan dilayar tv. Aku terpaku pada orang yg dikejarkejar oleh wartawan. Seseorang yg kukenal sangat baik. Aldo, sahabatku dari kecil dan juga pacarku dari setahun yg lalu. Yg lebih membuatku tercengang adalah judul berita tersebut, “aldo resmi jadian dengan veronica”
Yang aku tahu aldo memank seorang artis. Dan yg aku tahu veronica adalah pasangannya dalam sebuah film. Tapi kenapa bagian mereka jadian aku tidak tahu? Kenapa aldo merahasiakan semuanya dari aku ? apa gunanya kami pacaran selama setahun ini ? apakah dia sudah melupakanku hanya karna LDR ?
Aku terduduk lemas di sofa memandang acara tv. Memikirkan semua, mungkin saja aku salah melihat nama dan orang. Salah menyangka, ini hanya ilusiku, ini hanya mimpiku dan mungkin aku segera bangun kembali. Aku berusaha menghibur diriku, setelah aku sadar, bahwa disemua channel Indonesia terpampang gosip itu, aku sadar juga bahwa aku berusah membohongi diriku.
Tangan mama meremas bahuku perlahan, membuatku terlonjak pelan. Aku melihat tatapan bangga mama kearah tv. “well sangat hebat sekali aldo menggaet artis secantik dia.” Ucap mamaku tanpa beban. Aku sedikit ~ well banyak lebih tepatnya ~ kesal dengan ucapan mama. Membanggakan anak orang dibandingkan anak sendiri.
“well menurut mama cantik siapa antara aku dan veronica ?” tanyaku iseng, walaupun sekalian ingin memastikan jawaban. Dengan perasaan deg-deg-an menyertaiku.
“well, menurut pandangan orang, mungkin cantik dia daripada kamu sayang,”
“jadi dia pantas untuk aldo?”
“absolutetly”
“lalu aku tidak cocok dengan aldo?” tanyaku dengan nada sebiasa mungkin, namun malah terdengar marah, semoga mama tidak menyadarinya.
“sedikit tidak cocok sepertinya, aldo sangat tampan.”
“jadi aku sama sekali tidak cocok untuk orang tampan ma?” tanyaku, suaraku naik satu oktaf karna marah yg tak bisa aku tahan.
Mamaku heran melihat aku tibatiba marah, sebelum mama merespon, aku segera pergi menuju kamar dengan langkah kuhentak-hentakkan karna marah ~ beruntung karna rumah ini bukan rumah kayu.
“kenapa  kamu tibatiba marah seperti itu?” mama kebingungan setengah mati.
“lupakah mama, aku pernah memberi tahu mama kalau AKU DAN ALDI BERPACARAN sekarang ?! sudah setahun lebih mama! Dan dengan santainya mama bilang dia lebih cocok dengan veronica ?! dan mama masih tanya sekarang kenapa aku marahmarah ?!”
Kubanting pintu kamarku sekeras mungkin melampiaskan kemarahanku. Lalu seger aku menghambur ke ranjang. Menangis sepuas mungkin melihat semua itu. Memikirkan betapa teganya aldo kepadaku, betapa dia dengan gampangnya meninggalkanku dengan cara seperti ini.
Hpku berdering, tanda telpon masuk. Waktu aku melihat nama dilayar, amarahku langsung melonjak lagi. Aku menarik napas panjang dan menekan tombol bewarna hijau.
“Hey bebs apa kabarmu?”
Aku tak menjawab suara itu, aku tetap diam dan menahan isakku.
“Bebs?”
“Mau apa kamu?”  Tanyaku ketus.
“Hey, what’s wrong? Something bad happen to you?”
“Apa urusanmu sama aku?”
“Memank terjadi sesuatu. Apa salahku sayang?” tanyanya lemas.
“well sayangku yg sangat tampan. Aku tidak buta. Aku bukan orang pedalaman yg tidak punya tv. Aku LIHAT BERITAMU DENGAN VERONICA !” ucapku dengan penuh penekanan pada kalimat terakhir.
“bebs, aku bisa jelasin semuanya, ini bukan seperti yang kamu bayangkan. Ini demi kebaikan kita, hubungan kita, supaya wartawan tidak mengetahui hubungan kita.” Ucapnya dengan santai lagi.
Ucapannya sungguh membuatku naik darah, “well bebs, that is so sweet. You’re so sweet, make me sick ! kalau kamu malu punya pacar jelek seperti aku, LEBIH BAIK KITA PUTUS !” ucapku lalu menutup telpon dengan kasar.
“sayang, kamu tidak apa-apa ‘kan?” Tanya mama dengan sangat hati-hati.
Aku mengangguk singkat, lalu pergi kedapur untuk mengambil sebotol coca cola dan setoples kudapan. Saat berjalan menuju kamar, papa memberi isyarat untuk aku menuju ke ruang tamu. Segera aku kesana.
“sebelumnya jika ini membahas tentang aldo, aku gaakan ikutan.” Ucapku sebelum papa mulai bicara.
Papa menarik napas dalam, lalu mulai bebicara dengan nada biasa, “well, papa dan mama sudah memilihkanmu sekolah yg dekat dengan rumah. Kebetulan sekolah ini bagus, kirakira kamu masuk 2 hari lagi, tapi sebeleumnya apa kamu ingin melihat sekolahnya ?”
“well, ku percaya pilihan papa dan mama bagus. Tidak perlu. Ada lagi yg ingin disampaikan?” tanyaku, untuk mempersingkat waktu. Terus terag saja, saat ini aku tidak ingin banyak bicara.
“tidak ada sayang, kau boleh pergi.” Ucap mama.
Aku pergi menuju kamar, dan langsung makan semua makanan yg aku bawa sambil mendengarkan music dari hpku dengan headset. Aku mendengarkan lagu korea, big bang – my heaven karna aku menganggapnya sebagai surgaku. Namun nyatanya dia bagai nerakaku.
Tak lama hpku bergetar, saat kulihat ada sebuah pesan masuk, saat kubuka sms itu, aku merasa terhibur. Itu sms dari brian.
From : brian ~(‘  ~ ‘)
Hello ceman-teman :D jangan kau bersedih saat ini, karna ini masa muda, nikmati dengan kebahagiaan. Semakin banyak kau bersedih, maka nikmatilah masa muda dengan wajah tua.
Aku tersenyum, lalu kembali mendengarkan lagu sambil membaca novel dan tiduran, berusaha tidak memikirkan kejadian aldo, berusaha melupakan semua bebanku. Semakin lama, mataku makin berat, dan akhirnya kuputuskan untuk tidur.


Sekolah baru, SMA Negeri 123 balikpapan. sekolah bergengsi di Balikpapan. pertama kali aku melihat pagar sekolah, sekolah sangat megah, bersih, tertib dan blablabla. Aku mengenakan seragam yg baru diambil dari tukaang jahit tadi malam. Kelihatan pas sekali ditubuhku, dan dipenuhi dengan gosokan kasih sayang pembantu dirumah, bi ani.
Awalnya aku bersikeras ditemani papa masuk ke dalam lingkungan sekolah. Papa menolah, malah mengataiku sebagai anak kecil membuatku memutuskan masuk sendiri dengan perasaan kesal. Saat masuk, semua orang memandangku dengan penuh curiga, entah mereka menganggapku anak nyasar ataupun maling yg menyamar dengan baju sekolah. Aku menundukkan kepalaku, aku tidak suka tatapan orang-orang yg menghakimiku.
Akhirnya, karna aku tidak berani menatap lurus kedepan, aku menabrak seseorang dengan keras dan kami berdua tersungkur. Sakit tentu saja. Aku segera berdiri dan meminta maaf pada yg kutabrak.
“maaf banget, aku ga sengaja.” Ucapku dengan penuh penyesaan dan tetap tidak berani memandang orang itu.
“tidak apa-apa, aku baik-baik saja ko.” Ucap suara bass itu, dan aku menyadari yg aku tubruk adalah seorang cowo.
Cowo itu bangkit dan membersihkan bajunya. Aku tetap tertunduk lesu, takut cowo ini bakal minta pertanggung jawaban, dan mempermalukanku didepan orang banyak. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku memberanikan diri untuk menatap cowo itu, meminta maaf agar terkesan sopan.
Aku ternganga saat menatap orang itu, ternyata dia brian. Brian juga menatapku dengan tatapan terkejut yg konyol, membuatku tertawa. Lega rasanya orang yg kutabrak tadi adalah orang yg kukenal. Brian tersenyum, dan aku pun berhenti tertawa.
“gasopan, sudah nabrak orang malah ketawa.” Ucap brian pura-pura merajuk.
“well sorry, tadi tampangmu konyol banget. Aku ga bisa tahan buat ketawa.” Ucapku sambil nyengir.
“well sepertinya kau harus ganti rugi. Tulang pinggulku patah dan harus dibayar dengan semangkuk pangsit dan es jeruk.” Ucapnya pura-pura serius, aku tersenyum.
“well, oke. Anggap saja pangsit itu obat untuk penyembuh patah tulangmu.”
Dia tertawa, lalu merangkulku dan membawaku berjalan. Awanya aku malu sekali, namun entah darimana, perasaan percaya diri merasukiku, mungkin saja dari brian. Dia menanyakan hendak kemana aku dan apa tujuanku kesini. Dan dia berjanji akan mengajakku berkeliling sekolah.
Dia mengantarku sampai kedepan kantor kepala sekolah, dan karna lonceng berbunyi, kami harus berpisah ~well, bukan pilihan kata yg tepat ~ karna dia harus masuk kelas. Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan membuka pintu. Samar-samar aku mendengar suara brian berteriak ‘good luck’ padaku.
“permisi pak.” Ucapku saat pintu sudah terbuka lebar.
“yaa ada apa nak?” sahut seorang laki-laki paruh baya yg aku yakini adalah kepala sekolahnya.
“saya murid baru pak, pindahan dari singapura.”
“aaa ya ya. Tapi ada keperluan apa ya kesini?” Tanya bapaknya dengan tampang bingung.
Aku tergagap, apa mama lupa kalau kepala sekolah sudah memberi tahu aku masuk kelas berapa? “hm, saya ingin menanyakan dikelas mana saya masuk pak.” Tanyaku hati-hati, takut kenap marah padahal belum resmi masuk sini.
“ah , yaa. Bapak lupa, kamu masuk kelas X.9. ayo bapak antar kamu kesana.” Ucap bapak sambil tersenyum lalu membimbingku ke kelas baruku.
Aku berjalan dalam diam dibelakang bapak yg entah aku tak tahu namanya siapa. Bapak itu terus saja bersenandung lagu jawa disepanjang jalan. Saat di koridor, dekat ruang TU, bapak itu menoleh kearahku.
“tadi kita mau kemana ya?” Tanya bapak itu tampak bingung.
Aku awalnya juga bingung, namun segera kujawab pertanyaan bapak kepala sekolah itu, “X.9 pak” lalu bapak kepala sekolah langsung ber-‘oh’ panjang dan kembali berjalan. Dan aku baru sadar, bapak ini pelupa. Lalu tiba-tiba aku teringat papa, yg biasanya suka lupa kalau ada hubungannya sama uang. Entah itu benar atau papa hanya pura-pura lupa.
Aku melihat sekeliling, semua koridor sepi ~well, memang seharusnya sepi karna ini sudah lonceng masuk~ dan mengintip sedikit kekelas yg aku lewati tapi begitu ada murid dalam kelas yg melihatku, aku langsung buang muka. Aku mulai bingung kapan kebiasan ‘takutorang’ku ini akan hilang.
Sampai didepan kelas, ada papan nama bertulis ‘kelas X.9’ di depan pintu. Aku menarik napas dalam sebelum kepala sekolah menarik aku masuk.
Seperti biasa aku menunduk menatap lantai, tidak mau menatap siapapun yg ada disitu. Dan mereka mulai bising karna mengetahui ada murid baru. Membuatku salah tingkah dan tersandung oleh kakiku sendiri. Aku benci sekali dengan sifatku ini.
“pagi anak-anak?”
“pagi pak sapto.” Well, akhirnya aku mengetahui nama kepala sekolah.
“bapak sedang apa ya disini?” Tanya bapak itu, sontak anak-anak tertawa geli. Mau tak mau aku ikut tertawa kecil, dan tetap menatap lantai.
Miris sekali nasibku berdiri dengan penuh malu, sampa mereka selesai tertawa, sedangkan pak sapto disebelahku sibuk mengingat apa yg beiau lakukan disini.
“bapak disini ingin mengenalkan murid baru pak.” Ucap salah seorang wanita. Aku berterima kasih sekali padanya.
“aah , iya bapak ingat. Ayo kenalkan dirimu pada temanmu nak.”
Jedeeeerr! Bagai petir menyambar. Aku mulai gemetar, suaraku tidak mau keluar sedikitpun dan aku bingung harus berkata apa. Dikepalaku terpikir kata-kata, namun hilang saat memikirkan reaksi dan ekspresi wajah mereka. Dan akhirnya aku melakukannya.
“well hy, nama saya andrea pricillia. Kalian boleh panggil saya rea, pricil, it’s all up to you. Saya pindahan dari singapura. Itu saja.” Kataku dengan lancar. Akhirnya aku berhasil.
“well, ada kursi kosong satu. Kau tidak keberatan duduk bersama laki-laki?” Tanya pak sapto.
“tidak sama sekali pak.” Jawabku sesopan mungkin.
“oke, siapa ketua kelas ini ?”
Seorang mengacungkan tangan, mungkin karna aku tidak menatapnya. Masih setia menatap lantai yg putih dan kotor.
“oke kebetulan kamu duduk dengan ketua kelas nak. Ada guru apa tidak?”
“tidak ada pak. Bu nani sakiiit.” Sahut seseorang.
“oke kamu bisa duduk, ketua kelas, laksanakan tugasmu.”
Pak sapto langsung pergi. Aku melihat sekilas tempat duduk itu dan langsung menuju kesana. Diperjalanan sangat sulit, banyak cobaan menghadang. Dan akhirnya aku berhasil sampai.
Awalnya aku tak menyadari, lalu lama-lama aku menyadari bahwa teman sebangkuku ini duduk menghadapku. Refleks aku menatapnya, dan lagi-lagi, itu adalah brian.
“kenapa aku selalu ketemu kamu ya?” tanyaku sambil menghela napas.
“haha, bad luck ya?”
“bukan begitu. Kamu seperti penyelamatku, datang setiap aku merasa ga nyaman.” Ucapku. Entah darimana katakata itu.
“well, that a good one. Ayo kita pergi.”
“kemana?” tanyaku bingung. Padahal aku baru saja istirahat dari perjalanan panjang.
“tugasku. Mengenalkan lingkungan sekolah ke murid baru.” Ucapnya sambil mengedipkan matanya.
Aku berjalan bersamanya. Disepanjang koridor kami berbicara tentang sekolah, tentang tanaman, model baju, dan segala hal yg tidak penting. Biasanya aku tidak senyaman ini berbicara. Dia membuatku sangat nyaman, lebih cerewet dari biasanya.
Setelah selesai berjalan-jalan keliling sekolah, kami memutuskan untuk pergi ke kantin. Saat ini kami membahas tentang film harry potter yg sama-sama kami sukai. Lalu ada seorang wanita yg menegur brian.
“briaaaaaannn..”
Brian menoleh, dan akupun ikut menoleh dan mendapati seorang cewe yg cantik, putih dengan rambut panjang yg cocok untuk iklan shampoo. Sesaat aku berpikir bahwa itu adalah pacar brian. Daan sesaat aku berpikir jika itu pacar brian, maka aku akan membunuhnya.
Brian tersenyum ramah padanya, namun tatapan matanya menunjukkan bahwa cewe ini adalah musibah.
“hy devi.” Sapa brian ramah.
Si cewe yg bernama devi ini melirik kearahku dengan tatapan sinis yg membuat aku terdiam. Dia menelitiku dari atas sampai bawah, jujur membuatku sangat risih, tapi aku hanya bisa menunduk dan berada sebisa mungkin dibelakang brian.
“ehm, kenalkan vi, ini murid baru dikelasku. Namanya andrea. Andrea ini devi.”
Aku tersenyum padanya agar terlihat ramah. Tapi rupanya dia sedang tak ingin beramah tamah.
“well, hay andrea, jangan dekat-dekat sama brian yaa. Nanti kamu aku gigit.” Ucapnya centil lalu pergi.
Aku diam saja, karna aku tidak mengerti apa yg dia katakana. Aku menatapa brian, tapi dia hanya tersenyum ~well, bukan jawaban yg kuinginkan~ padaku. Lalu akhirnya kami tidak jadi ke kantin dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
Semua teman sekelasku bertindak baik padaku, kebanyakan murid perempuan mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Kebanyakan laki-laki menggodaku, menanyakan nomor hp dan sebagainya. Menyenangkan rasanya memiliki teman sekelas yg menerimaku apa adanya.
Aku mendapat seseorang teman yg sangat ramah dinda, persis seperti sahabatku waktu smp, alina. Dengan sangat sopan dan ramah dia menawarkan catatannya selama satu semester padaku untuk di poto copy. Yg lain menawarkan aku segala macam makanan yg mereka bawa.
Tidak terasa lonceng pulang berbunyi, berhubung ini hari jumat. Aku bersyukur sekali bahwa hari ini cepat berlalu. Aku segera membereskan bukuku dan langsung beranjak keluar kelas.
“aku antar kamu ya?” ajak brian saat aku hendak keluar kelas.
Aku ternganga, bingung hendak berkata apa, “well aku gamau ngerepotin, aku bisa pulang naik angkot. Lagipula aku tidak ingin melihat kamu bertengkar dengan pacarmu.” Ucapku, berusaha menolak dengan sangat halus.
Dia diam saja, aku mulai merasa tidak enak hati, takut menyakiti hatinya. Sejurus kemudian, dia mulai tertawa geli. Aku tidak mengerti kenapa, aku berpikir bahwa brian mempunyai masalah dalam merespon perkataan orang dengan ekspresi yg tepat.
“she’s not my girlfriend.”
“aa, benarkah? Lalu mengapa dia bertindak seperti itu dan..”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah menarikku menuju parkiran. Dia mengeluarkan motornya, lalu memberikan helm kepadaku. Aku memakainya dan segera naik ke motor. “pegangan” katanya, terdengar sedikit nada usil disuaranya. Aku melipat tanganku diperut.
Dia menggas motornya dengan kasar, membuatku hampir terjatuh jika tidak memeluk brian. Dia sengaja sekali melakukannya. Mau tak mau aku berpegangan~dalam arti memeluknya.
Motor bergerak menuju keluar sekolah. Andrea dan brian pergi, tanpa menyadari ada sepasang mata sinis mengawasi kepergian mereka.
Masalah !
Mungkin sudah sebulan lamanya aku bersekolah. Aku sudah semakin akrab dengan teman sekelasku, terutama dinda. Kami sudah seperti saudara kembar yg kemana saja selalu bersama. Kadang aku juga bersama dena, fina, amel, anna dan yg lainnya. Mereka semua ramah, dan yg paling penting setia kawan.
Semenjak insiden brian mengantarku pulang sampai masuk ke rumah, mama sangat senang, dan semenjak itu brian selalu menjemputku kesekolah dan mengantarku pulang, dengan alasan karna rumah kami berdekatan. Well, hemat uang angkot memang. Tapi semenjak itu aku mendapati devi dan beberapa orang cewe menatapku sinis.
Hubunganku dengan aldo juga makin menjauh. Dia sibuk dengan kariernya dan pacar barunya. Aku sibuk untuk menghindarinya. Mengindari semua yg mengingatku padanya, menghindari terror sms dan telponnya. Memang menyakitkan mengingat apa yg dilakukannya dulu. Namun aku berusaha menerimanya dengan sabar.
Hidupku sekarang sempurna, sangat sempurna, sampai..
“andrea…”
Aku menoleh dan mendapati teman smpku melita. Disatu sisi aku sangat merindukannya, disisi lain aku sangat takut dia ikut percaya kalau aku yg mengambil kunci jawaban ulangan semester dismp dulu. Dia mendatangiku dengan penuh semangat dan memelukku.
“kamu apakabar?” tanyaku padanya
“aku baik. Kamu sendiri gimana?”
“sama saja.”
Aku banyak berbincang dengannya masalah kepergianku ke singapura. Dia mendengarkan dengan seksama sekali.
“gimana sekolah setelah kepergianku?” tanyaku memberanikan diri menyinggung masalah itu.
“well, kebanyakan mencelamu. Dan aku, fira, jenny, nunu dan yg lain berusaha mencari tahu apakah benar kamu yg mengambil. Kami sudah begitu dekat sekali, sampai stefany dan yg lain melarang kai untuk mencari tahu.”
Aku terdiam. Nama stefany membuatku marah sekali. di smp dia selalu saja mencari masalah dan membuatku terjebak di kantor bk. Andai aku bertemu dengannya, aku ingin sekali membunuhnya ~well, sebenarnya tidak mungkin teerjadi~.
“aku curiga pasti stefany yg melakukannya.” Ucap melita.
“sudahlah. Aku ingin memulai hidup baru disini. Siapapun yg melakukannya, aku tidak pernah merasa marah padanya. Terima kasih kamu dan yg lain mau mencari kebenaran agar membuat namaku bersih.
Well aku dan dia mulai berbicara tentang hal yg lain dan mulai bercanda. Kami melupakan masalah tadi. Memang masalah itu harus dilupakan dan tidak boleh diingat lagi. Aku ingin memulai hidup baru, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin dibayangi masa lalu.
Saat kami sedang asyik berbicara, tiba-tiba melita terdiam dan menatap sesuatu yg berada dibelakangku. Saat aku menoleh, tampak brian sedang berjalan menuju arah kami. Dia tersenyum padaku.
“kamu sedanga apa disini?” Tanya brian saat sampai disampingku.
“well, berbicara dengan temanku, seperti yg kau lihat.”
“ok, nanti saat pulangan jangan pergi kemana-mana.”
“ok, lihat saja nanti.” Ucapku menantang.
“heyy, jangan macam-macam kamu. Kamu sampai rumah dengan selamat itu tugasku.” Ucapnya
“yayay, sana kau pergi saja.” Ucapku sambil medorongnya untuk pergi.
Brian pergi sambil tertawa lebar dan menyisakan senyum untukku sebelum dia berpaling. Aku juga tersenyum padanya. Lalu saat aku menghadap melita, dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. Seperti baru saja Robert pattinson menciumku. Lalu tiba-tiba dia histeris dan mengguncang tubuhku seperti sedang kerasukan.
“kamu..baru..sajaa… ditegur..diantar pulang…tertawa…”
“pelan-pelan mel, kenapa?” ucapku kebingungan.
“itu, brian adalah cowo paling banyak ditaksir menurut vote anak-anak.”
Dahiku mengerut, vote untuk cowo yg paling banyak ditaksir? Well, harus kukatakan sekolah ini sudah kehilangan akalnya~secara teknik, murid-muridnya~ karna kemajuan teknologi.
Well, harus kuakui penilaian mereka sama sekali tidak salah. Karna, brian memang sangat tampan sekali ! lalu dia juga sangat ramah dan selalu murah senyum. Kalau diadakan vote lagi, mungkin aku mau saja memberikan vote kesepuluh jariku untuk brian.
Aku kembali kekelas bersama melita karna kebetulan kelas kami satu arah. Kami~well lebih tepatnya dia~ membahas semua tentang brian kepadaku. Betapa tampannya dia, betapa kerennya dia, betapa banyak cewe yg mengincarnya namun gagal, betapa misterinya masa lalu dan aktivitas brian, betapa susahnya mengetahui tipe cewe yg brian suka. Semuanya, yg tak pernah kuketahui.
Aku mendengarkan dengan seksama karna aku memang sangat ingin mengetahuinya. Aku penasaran dengan semua tingkah lakunya yg serba tertutup di samping sifatnya yg ramah. Semuanya tentang dia, membuatku hampir gila.
Menatap jalan didepan, tentu saja membuatku tidak menabrak apapun yg ada didepanku. Namun kali ini, aku sangat menyesal sekali menatap kearah depan.
Kudapati manusia, bernama devi dan beberapa siswi lain yg kuyakini adalah para antek-anteknya, berdiri menutupi jalan yg mau kami lewati. Wajah mereka penuh dendam. Aku menarik napas pelan lalu berjalan mendatangi mereka.
“well well well guys. Liat siapa yg ada didepan kita, cewe centil yg berani-beraninya ngerebut pangeran kita.” Ucap devi, semuanya langsung menggumamkan katakata yg menyetujui ucapan devi.
“apa yg kalian maksud dengan pangeran?” tanyaku kebingungan. Devi tersenyum kecut.
“kamu tidak usah pura-pura, pangeran kami, BRIAN! Kami tidak buta! Setiap hari kau pulang dan pergi bersamanya.”
Oke ini salah. Mereka benar-benar sudah gila. Benar-benar korban sinetron yg tidak kusangka sangka sangat banyak. Menurut fantasi mereka, brian adalah pangeran tampan, dan mereka adalah para putri pengagum brian. Sedangkan aku adalah salah seorang putri yg merupakan saingan terberat mereka. Well agak ngeri mengetahui fakta bahwa aku akan dikeroyok oleh mereka semua. Tapi ada satu sisi yg membuatku sedikit percaya diri, yaitu dimana aku adalah saingan terberat, that’s means aku cantik.
Lalu dengan kedekatanku dengan brian membuatku mendapatkan point plus lagi, apalagi mamaku dan tantenya saling kenal. Membuat banyak sekali point plus buatku. Well, pikiran ini sangat menyenangkan.
“oke, lalu kalian ingin aku bagaimana?” tanyaku bingung.
“jauhi dia bodoh! Kau kira kami tidak cemburu! Jauhi dia dan kau tidak akan mendapat masalah.”
“well, itu agak susah sepertinya.”
Devi langsung melotot dan mendatangiku. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Dia tetap saja melotot, dan menatapku dengan tatapan tajam. Sesaat membuatku ngeri. Mengingatkanku dengan voldemort di harry potter. Hanya saja hidungnya lebih mancung dibandingkan voldemort.
Setelah lama dia menatapku dengan tatapan menghujat, dia mundur dan berkumpul lagi bersama kelompoknya. Aku hampir saja melupakan kehadiran melita dibelakangku yg terdiam saja menyaksikan kejadian ini seakan ini adalah layar  tancap film action.
Mereka berbisik-bisik lalu meninggalkan kami berdua yg terbengong-bengong karna kebingungan. Well memank sikap seluruh anak itu semua tidak jelas, buat apa jadinya aku terbengong-bengong~well, mungkin aku yg tidak jelas~ karna mereka.
Sampai dikelas, semua anak diam dan memandangku. Aku tau tatapan itu, apalagi tatapan dari guru kimiaku. Aku terlambat masuk kelas, dan di dalam hati aku mengumpat kasar untuk devi dan kawan-kawannya karna mereka, saat yg lain mengerjakan soal, aku mendapatkan kultum dari bu anita.
Kebanyakan ceramahnya sangat meleset dari tema tentang keterlambatanku masuk kelas. Tentang pergaulan bebas, narkoba, dan lebih tak masuk akal, kebut-kebutan. Bagaimana bisa aku kebut-kebutan kalau aku sendiri tidak bisa naik motor?
Lalu ceramah diakhiri dengan sangat lama, seandainya yg didepanku bukan seorang guru, mungkin aku akan menggelar  tikar dan tidur sekarang juga. Aku berusaha mengalihkan pandanganku kearah murid yg lain. Aku melihat dinda dan teman sebangkunya, eli memberiku semangat ~membuatku sangat terharu~ dan saat aku melihat kearah brian, dia tersenyum mengejek kearahku. Aku menyesal sekali menoleh kearahnya.
“kamu sih telat, kena ceramah sama bu anita deeh.” Ucap dinda. Dia tertawa kecil.
Aku diam saja sambil menyengir saat dinda berkata begitu. Aku ingin sekali bercerita, hanya saja aku tidak yakin apakah dia bisa kupercaya, belum saatnya.
Sepanjang pelajaran selanjutnya aku diam saja. Memikirkan semua masalah ini. sebenarnya aku tidak perduli dengan devi, aku hanya takut semakin runyam masalah ini, dia mencari tahu tentang masa laluku, mencari kesalahanku. Aku tidak ingin masaahku ini mencuat. Aku tidak mau dijauhin lagi.
“eeh-ehh kamu liat ga cewe yg lagi jalan itu? Dia itu katanya ngambil kunci jawaban ulangan semester loh.”
“yg itu? Masa sih? Ga yakin ah, mukanya tidak mendukung.”
“kamu jangan hanya lihat dari wajahnya. Cantik kadang-kadang bisa menipu.”
“yaampun sayang banget ya, cantik-cantik hatinya sama sifatnya lebih busuk dari kita yg preman ini.”
Aku melihat stefany berdiri didepanku tertawa lebar dengan mebawa kunci  jawaban ditangannya. Dia melambaikan kunci jawaban itu di depan wajahku, dan mengatakan “dasar munafik” keras keras diwajahku.
aku mengerjap mataku, dan mendapati warna pelapon kelas berubah menjadi putih. Saat aku ingin bangun, kepalaku terasa berat sekali, seperti ada sekitar 4 mobil pengangkut minyak berada dikepalaku. Aku mengerjap lagi untuk memastikan pandanganku.
Aku menoleh, ternyata aku berada di UKS sekolah. Tapi aku tidak menemukan seorang pun disana. Aku diam saja dan terus menatap pelapon. Mengingat apa yg terjadi padaku. Tapi aku tidak mengingat apapun sekeras apapun aku memejamkan mataku.
Aku mendengar suara sepatu membentur pelan lantai. Aku menunggu siapa yg akan datang dengan seksama.
Brian datang dengan membawa sebotol air mineral. Mukanya sangat tegang, namun saat melihatku menatapnya, dia menarik napas lega dan mendatangiku. Namun saat didekatku dia diam saja.
“well, aku kenapa?” tanyaku, penasaran sekaligus menghilangkan suasana sunyi.
“kau pingsan saat pelajaran ekonomi. Aku kira kau tertidur, saat ku bangunkan kau tidak menjawabku. Aku kira kau tidak mendengarku, jadi aku sedikit mencatukmu dikepala.” Ucapnya padaku sambil menyengir.
“well, sampai memar, kau kubunuh!” ucapku sambil menjelajahi kepalaku, mencari apakah ada bagian yg memar di kepalaku.
“kau baik-baik saja? Sepertinya tadi pagi kau tidak apa-apa?” Tanya brian khawatir, walaupun wajahnya terlihat datar, namun suaranya dan matanya terlihat khawatir.
“aku tidak apa-apa ko, benar. Bisa tidak antar aku pulang?” pintaku padanya. Dia menganggu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar